Saya tahu memang kualitas layanan dari Indosat itu termasuk jelek (terutama IM2 & StarOne), tapi 10% itu jumlah yang besar. Saya rasa kejadian pelanggan seluler berkurang ini baru yang pertama kali terjadi di Indonesia (di dunia jg brgkl..??) .
Ada yang mengatakan predatory pricing yang dilakukan XL, dkk sudah mulai memakan korban,termasuk salah satunya adalah Indosat. Namun yang terjadi di indosat menurut saya adalah bersihin nomor2 yang sudah tidak aktif (kemungkinan nomor isi ulang yang nggak pernah di isi). Kalau dilihat angkanya 10% lebih customer ilang, nggak mungkin revenue bisa naik 1%, kecuali yang 90% itu spend lebih banyak lagi
Industri telecom memang margin mepet, tapi nggak akan bertahan lama, sekarang ini (kalau nggak salah) ada sekitar 13 service provider, dari sekian ini nggak mungkin semuanya bisa bertahan - pasti ada korban, kalau dilihat yang bisa survive kemungkinan adalah telkom, indosat, excl, fren dulu market leader di CDMA sekarang nggak tau deh, apalagi udah gagal bayar utang...
Yang udah pasti survive ya telkomsel karena boleh dibilang penggunanya fanatik2 (termasuk saya, udah dari dulu mau pindah provider tapi nggak jadi2.... hehehe)
Jumlah pelanggan indosat, maksudnya 'customer' nggak mungkin jumlahnya sampai 28 juta orang, kalau nomornya iya, satu pelanggan bisa punya 2-3 nomor (misal GSM, CDMA, buat mobile internet... dll).
Kalau prospek sahamnya: satu2nya daya tarik indosat adalah harganya yang murah (dilihat dari PBV), kalau dari PER jelek, mending telkom, tapi telkom PBV udah tinggi bgt. Kalau PBV tinggi sementara PER bagus, itu berarti ruang kapasitas untuk growth terbatas (ROE sudah tinggi), sementara persh dgn ROE rendah punya kesempatan untuk berkembang lebih besar... kecuali managementnya ngawur.
Perang tarif provider ini nggak akan berlangsung lama, pasti akan ada korban & yang diuntungkan tentunya survivor dari perang ini....
Praktek ‘bersih2’ nomer itu adalah kegiatan yang WAJIB dilakukan para operator, sebab sumber daya penomoran itu sifatnya terbatas, contoh kalo mereka mau nambah lagi nomer seluler yang prefixnya 0853xxxxxxxx, mereka harus bayar cukup banyak kepada regulator.
Umumnya praktek ‘bersih2’ ini dilakukan secara rutin tiap tahun (jadi ya jangan heran kalo sekarang masih bisa dapet nomer XL atau Kartu Halo yang 10 digit), sehingga pertumbuhan customer nggak sampai minus, karena tertutup pelanggan baru.
Lha kalo Indosat baru melakukan kegiatan itu sekarang kok rasanya janggal. Ya memang sih sepintas kalo dilihat, menghanguskan nomor2 yang sudah mati itu nggak ada ruginya. Tapi dalam kapasitas PENCITRAAN di mata seorang investor, pertumbuhan pelanggan -10% itu jelas bukan sesuatu yang menarik dilihat.
Tentu para investor awam bertanya2, kenapa jumlah kartu yang hangus sebegitu banyak? Kenapa jumlah pelanggan baru tidak mampu menutup kekurangan itu? Apa ada yang salah dengan Indosat, dll…



